Badung, Bali – Klinik Pratama Marga Ayu bekerja sama dengan LPPM Universitas Dhyana Pura meluncurkan program pengabdian masyarakat bertajuk “Sehat Fisik dan Mental bersama Prolanis”, sebuah inisiatif terpadu untuk menekan risiko komplikasi penyakit kronis melalui pendekatan fisioterapi dan psikiatri komunitas. Program ini menyasar peserta Prolanis—khususnya penderita diabetes mellitus dan hipertensi—yang merupakan kelompok dengan risiko tinggi terkena stroke dan gangguan kesehatan lainnya.
Kegiatan ini menjadi penting karena penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi hipertensi mencapai 34,1%, sementara diabetes melitus 10,9%. Stroke yang merupakan komplikasi dari kedua penyakit ini masih menjadi penyebab kematian terbesar dan membebani pembiayaan kesehatan nasional.
Mengapa Program Ini Dibutuhkan?
Tim pengabdian menemukan bahwa meski kegiatan Prolanis sudah berjalan di Klinik Marga Ayu, partisipasi peserta masih fluktuatif. Selain itu, banyak peserta belum memahami hubungan antara stres, kebugaran fisik, hipertensi, dan diabetes. Minimnya layanan fisioterapi sederhana serta edukasi kesehatan mental turut memperbesar risiko komplikasi—termasuk stroke—bagi kelompok usia lanjut.
Melihat kondisi tersebut, tim PKM menghadirkan pendekatan fisioterapi komunitas untuk meningkatkan kebugaran serta psikiatri komunitas untuk memperkuat kesehatan mental. Integrasi ini sejalan dengan paradigma “sehat holistik” yang menekankan keseimbangan fisik dan psikologis.
Kegiatan Lapangan: Skrining, Edukasi, hingga Latihan Fisik
Pada 25 Oktober 2025, sebanyak 16 peserta Prolanis mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi:
- Pemeriksaan Tekanan Darah dan Gula Darah
Peserta rata-rata berusia 60 tahun. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah berada pada kisaran 130–150/90–100 mmHg, sementara rata-rata gula darah puasa mencapai 120 mg/dL—menandakan tingginya risiko komplikasi.
- Edukasi Interval Walking Training (IWT)
Dibawakan oleh Ni Putu Dwi Larashati, S.Ft., Ftr., M.Fis., edukasi ini menjelaskan bagaimana latihan jalan interval dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan kebugaran, dan membantu mengendalikan gula darah.
Efek edukasi ini sangat signifikan. Dari pre-test rata-rata 69%, pemahaman peserta meningkat menjadi 92% setelah post-test.
- Edukasi Kesehatan Mental: Manajemen Stres dan Deteksi Dini Ansietas
Materi oleh dr. Putu Anastasia Kharisma Meirianthi, Sp.KJ., meningkatkan pemahaman peserta dari 72% menjadi 95%. Para peserta juga mengikuti sesi konseling kelompok ringan sebagai upaya memperkuat dukungan psikososial.
- Skrining Risiko Stroke dan Kecemasan
Hasil skrining menunjukkan lebih dari 70% peserta memiliki risiko stroke, sementara 56% mengalami kecemasan. Data ini menguatkan pentingnya intervensi fisik dan mental secara simultan.
Dukungan Fisioterapi dan Mental Health Education Berkelanjutan
Selain kegiatan tatap muka, tim PKM juga menghasilkan media edukasi pendukung, meliputi:
- Video tutorial Interval Walking Training (IWT)
- Booklet edukasi Sehat Fisik dan Mental
- Poster dan infografis
- Publikasi populer di media digital
Media ini diharapkan memperkuat keberlanjutan program bahkan setelah kegiatan PKM selesai.
Kolaborasi Akademik dan Pemberdayaan Kader
Program ini menjadi bagian dari kebijakan MBKM (Merdeka Belajar – Kampus Merdeka) dan mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Mahasiswa fisioterapi terlibat langsung dalam asesmen, pendampingan, dan implementasi program, sementara tenaga kesehatan klinik dilatih sebagai kader internal untuk menjalankan kegiatan di kemudian hari.
Menuju Komunitas Prolanis yang Mandiri dan Sehat
Ketua tim, Ni Putu Dwi Larashati, S.Ft., Ftr., M.Fis., menyampaikan bahwa program ini bukan hanya tentang edukasi, tetapi tentang membangun kemandirian kesehatan jangka panjang.
“Kami ingin peserta Prolanis tidak hanya bergantung pada layanan klinis, tetapi mampu melakukan latihan fisik dan manajemen stres secara mandiri. Dengan begitu, risiko komplikasi seperti stroke, depresI, dan gangguan mobilitas dapat diminimalkan.”